http://beritadisdik.com/news/kaji/bersyukur-masih-diberi-waktu-dan-bertemu-matahari
Mungkin
pula hal tersebut yang menyebabkan kebanyakan dari “lansia” yang dulunya pernah
beraktifitas harian sejak pagi hari, ketika memasuki masa lanjut usia dengan
senang hati melakukan kegiatan yang bisa menyehatkan mereka melalui berbagai
aktifitas yang tidak mengikat. Aktifitas harian
yang sebelumnya dilakukan dengan dasar tuntutan profesi, kini beraalih
menjadi suatu kebutuhan. Kebutuhan bergerak dan berpikir agar otot tidak
menjadi kaku dan otak tidak menjadi beku.
Hal
yang sangat menarik bagi saya, dari semua aktifitas yang dilakukan lansia
adalah berolah raga ringan hingga agak berat. Jalan santai, Joging, tenis meja, badminton,golf, bersepeda, hingga
tenis lapangan dan yang sejenisnya. Kegiatan yang membuat otot yang kaku
menjadi agak lemas dan otak menjadi fresh inilah yang kemudian menjadi
pengganti kegiatan harian yang sebelumnya secara rutin mereka lakukan.
Kegiatan-kegiatan tersebut juga dilakukan para lansia awal seperti dan
rekan-rekan seusia yang masih
menjalankan tugas kedinasan atau kewirausahaannya.
Tiga
paragraf diatas, jika diperhatikan adalah bentuk-bentuk perilaku bersyukur kita
akan anugerah Allaah Yang Maha Kuasa berupa kesempatan dan kesehatan.
Kebanyakan dari kita tentunya sepakat, jika dengan cara bersyukurlah seseorang
akan bertambah kebugaran dan imunnya, mengingatkan saya pada lirik Lagunya
Ebiet G. Ade yang berjudul “Masih Ada Waktu”. Bagian lirik yang sering menjadi
bagian dari narasi saya, manakala sedang bertugas memberikan spirit pada kawula
muda. Bagian lirik : ‘’….. Kita mesti bersyukur bahwa masih diberi waktu..” dan
“bersyukur masih bisa bertemu matahari.”
“Masih
diberi waktu dan bertemu matahari” adalah keajaiban bagi manusia yang pandai
berseyukur, apalagi bagi mereka yang sudah faham begitu banyak keberuntungan
yang didapatkannya, dibandingkan dengan sesame manusia lain yang harus
berjuangn keras untuk mendapatkan kedua anugrah tersebut. Secara kolektif, kita
Bangsa Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia yang mendapatkan
keberuntungan dihadirkan Allaah Yang Maha Kuasa diwilayah tropis tanpa harus
berjuang sebelumnya.
Kita
wajib bersyukur, karena tak harus berjuang untuk mendapatkan Matahari yang
sebagian besar orang di Iklmim Sedang, baik di Belahan Bumi Utara, maupun
Belahan Bumi Selatan harus mengalami masa puasa tidak bisa bertemu matahari
saat musim dingin. Tak harus berjuang keras mengumpulkan makanan, pakaian dan
cahaya untuk menghadapi musim dingin selama
tiga bulan atau bahakan harus menabung untuk persiapan libur musim
dingin mereka dengan cara meninggalkan negaranya menuju negara-negara tropis,
seperti halnya Indonesia.
Anugrah
Allaah Yang Maha Kuasa untuk wilayah tropis, seperti yang kita dapatkan di
pelajaran Geografi sejak SD adalah fenomena hujan sepanjang tahun dan matahari
bersinar sepanjang tahun pula. Artinya, kita yang di Tropis, sekali-kali akan mendapatkan
hujan, walau pada musim kemarau dan akan senantiasa mendapatkan snar matahari,
walau pada musim penghujan sekalipun. Keberadaan musim yang seperti ini pula
yang menyebabkan masyarakat kita yang determinis (kehidupannya sanagat
ditentukan alam) menjadi cenderung lebih rendah etos kerjanya, dibanding mereka
yang di negara-negara wilayah iklim sedang. Tentu saja generalisasi ini pun ada
pengecualiannya untuk wilayah-wilayah sabana dan semi arid tropis. Fenomena
negara maju di dunia pun menunjukkan bahwa bangsa-bangsa di iklim sedang secara
umum mendominasi kemajuan peradaban modern saat ini, jika melihat HDI/ IPM
(Human Development Index/ Indeks pembangunan Manusia) yang ditentukan UNDP
melalui 3 parameternya, yakni kesehatan, pendidikaan dan ekonomi. Tentu saja
dengan pengecualian untuk negara Maju di Tropis seperti Singapura atau
negara-negara Eropa Timur yang belum maju di iklim sedang di pecahan
negara-negara Uni Soviet dahulu.
Sayang
Sekali, banayak generasi muda kita yanag masih belum menyadari betapa mahalnya
Spancaran sinar matahari pagi yang kaya akan kandungan Vitamin D dengan
kebiasaan begadang setiap malam, apalagi saat ini milenia disibukkan dengan
game online yang dilakukan hingga larut malam, sehingga kadang sebagian dari
mereka saat berkegiatan di pagi hari lebih mendekati tempat tidur. Saat yang
bersamaan Allaah Yang Maha Kuasa sedang menebarkan anugerahnya berupa sinar
matahari pagi yang penuh energi bagi tubuh kita.
Sebagian
dari mereka sering lupa bahwa Rasulullaah Muhammad SAW. Telah mewanti-wanti
agar kita menyegerakan tidur dan menyegerakan bangun. Beliau juga sangat
melarang kegiatan tidur yang diakukan pada rentang waktu anatara shalat waktu
shubuh hingga dhuhur dan di rentang waktu antara ‘Ashar dan Maghrib.
BERSAMBUNG…












