Mengkritisi Perbedaan Penentuan Hari Raya Iedul Fithri 1432 H.

Menurut pengamatan saya selama ini, perbedaan HariRaya Iedul Fithri yang terjadi pada ORMAS-ORMAS Besar di Indonesia disebabkan perbedaan metode. Perbedaan metode berakar dari pemahaman hadist Rasulullah SAW. tentang penentuan Hari Rya Iedul Fithri tersebut.



Metode 1

1. Metode Hisab (Ormas Muhammadiyah) ==> Memahami pengertian liru'yaatil hilal bukan hanya sebagai melihat dengan mata terbuka bukan suatu keharusan, melainkan dengan apa saja, termasuk dengan Ilmu pengetahuan, dalam hal ini Ilmu Falak, dengan cara menghitung (hisab). Metode ini berpegang pada kebenaran penglihatan pengetahuan terhadap kejadian alam semesta semisal ; datangnya peristiwa kommet, hujan meteor serta gerhana bulan, maupun mathari yang bisa diprediksi jauh-jauh hari, bahkan beberapa tahun sebelumnya secara akurat.

2. Metode Ru'yah (Ormas NU, Al Washliyah) ==> Memahami pengertian liru'yaatil hilal secara tekstual, artinya melihat hilal sebagai suatu keharusan. Metode ini menempatkan hisab sebagai landasan waktu untuk melihat secara langsung dengan mata terbuka ataupun teleskop terhadap dilingkatran bulan baru. Metode ini diambil berdasarkan Hujjah/ dalil pijakan bahwa hisab tak selamanya tepat/akurat, sehingga harus digenapkan dengan pengamatan langsung. Sebagai tambahan, metode ini menentukan perhitungan 4 derajat minimal untuk menentukan masuknya bulan baru.

2. Metode Hisab-Ru'yah (Ormas PERSIS) ==> Memahami pengertian liru'yaatil hilal secara tekstual, artinya melihat hilal sebagai suatu keharusan. Metode ini menempatkan hisab sebagai landasan waktu untuk melihat secara langsung dengan mata terbuka ataupun teleskop terhadap dilingkatran bulan baru. Metode ini juga diambil berdasarkan Hujjah/ dalil pijakan bahwa hisab tak selamanya tepat/ akurat, sehingga harus digenapkan dengan pengamatan langsung

"sesuai dengan sunnah" yang dicontohkan Rasulullah SAW. Sebagai tambahan, metode ini menentukan perhitungan 2 derajat minimal untuk menentukan masuknya bulan baru.

Begitulah kira-kira perbedaan metode itu, apabila kita kritisi secara sederhana. Persoalan yang mendasar pada ummat saat ini adalah kesadaran untuk memilih keputusan itu berdasarkan ilmu, artinya semua peribadatan kita kepada ALLAH diusahakan jangan sampai "raddan" (tertolak), karena taklid.

Ittho'ah/ ketaatan terhadap jam'iyah/ jama'aah juga merupakan suatu landasan yang dipertimbangkan dalam memilih putusan-putusan peribadatan.

Akhirnya pilihan apapun bergantung pada keterbatasan kita memahami relevansi ayat kauniyah/ dalil akli (hadirnya bulan dan pehitungan) dengan ayat kauliyah (hadist Rasulullah SAW), Insya Allah akan menentramkan kita semua dalam memilih hari Selasa atau Rabu kita akan Shalat Ied.

Pada bahasan Shalat Iedul Adha parameter-nya sedikit berbeda, karena itu bahsan ini hanya relevan pada pembahsan fenomena awal Bulan Syawal (iedul Fithri) saja.

Catatan Akhir : Sangat tidak bijaksana, apabila seorang muslim yang faham tentang metode penentuan Hari raya Iedul Fithri, maupun Iedul Adha saling menistakan satu sama lain. Hal ini berkenaan dengan kompleks dan uniknya perhitungan.

indikator yang harus menjadi bahan pertimbangan pada penentuan kedua hari besar ini.

Pada penentuan Hari Raya Iedul Fithri, indikator awal bulan hijriyah menjadi hal utama, padahal kita melakukan shaum dengan menggunakan hari dari penanggalan Masehi. Artinya pada waktu menentukan saat-saat awal dan buka shaum kita berketetapan atas dasar rotasi bumi, sehingga Indonesia bagian Timur lebih dahulu daripada Indonesia barat. Untuk penentuan Iedul Fithri kita merujuk pada revolusi Bulan terhadap Bumi, sehinggan Indonesia Barat akan lebih dahulu mendapatkan hilal daripada Indonesia Timur.

Pada penentuan Hari Raya Iedul Adha, patokan kita adalah pada saat ummat Islam yang sedang melaksanakan ibadah haji wukuf di arafah, maka Ummat Islam di seantero dunia disunnatkan untuk melaksanakan shaum.

Penentuan inilah yang mendasari Hari raya Iedul adha pada keesokan harinya.Yang unik disini adalah Hari Masehi Indonesia akan tiba lebih dahulu dari Saudi Arabia, maka kemudian kita akan melaksanakan Iedul Adha umumnya, sehari setelah Iedul Adha di Saudi Arabia.

Pekerjaan Rumah terbesar kita (Kaum Muslimin Indonesia) cukup berat, mengingat bentang wilayah yang luas yang membujur dari 95 s.d. 141 derajat BT, sehingga memiliki selisih waktu 3 jam 4 menit. wilayah yang luas ini, sampai saat ini dimasukkan kedalam satu kesatuan Wilayatul hukmi. Bisa jadi, apabila dikemudian hari, Menteri Agama menentukan awal Ramadhan, Iedul Fithri dan Iedul Adha berupa dua keputusan yang berbeda ; untuk Wilayah Indonesia Bagian Barat dan untuk Wilayah Indonesia Bagian Timur.



Wallaahu 'alam

Billaahi Fii Sabiililhaq, Wal anfu minkum.

Wasslaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.