Curi start, Merekrut Siswa Prestasi untuk Mendulang Emas di OSN

Curi start, Merekrut Siswa Prestasi untuk Mendulang Emas di OSN
Oleh : Ade Fathurahman, S.Pd.
Guru SMAN 1 Kota Sukabumi

Olimpiade Sain Nasional (OSN) yang merupakan suatu perhelatan akbar tahunan bagi masyarakat pendidikan di Indonesia. Betapa tidak, hanya dengan satu saja prestasi siswanya  yang berhasil di OSN ini, suatu keluarga, sekolah asal, bahkan suatu kota mendapatkan hadiah psikologis kebahagiaan yang tiada tara ditengah carut marut Informasi Prestasi Pendidkan Indonesia.   
Pada akhirnya, beberapa tahun ini Masyarakat Indonesia seharusnya berbangga, ternyata pada saat tata laksana pemerintaha di Indonesia dikritisi habis-habisan oleh dunia, pada saat persepak bolaan Indonesia yang mendapatkan perhatian penuh pemerintah dan masyarakat Indonesia hanya mampu berkutat di tingkat regional, beberapa siswa/i Indonesia menjuarai Science Olympiad (Olimpiade Sain Dunia, sekali lagi tingkat dunia. 

Delegasi Siswa/i berprestasi ini, walaupun belum mendapatkan perhatian ysng cukup dari pemerintah, masyarakat dan media masa, mulai dari pemberangkatan sampai penyambutan kedatangannya dari luar negeri, sampai dengan saat ini terus menerus mendulang emas, perak dan perunggu bagi Indonesia.
Ketika gebyar OSN di tingkat nasional belum mendapatkan perhatian yang cukup itu, sebaliknya masyarakat persekolahan mulai dari tingkat dasar dan menengah yang telah menuntaskan pelayanan standar minimalnya masih bersemangat berkompetisi melahirkan siswa/i berprestasi sebagai bagian dari kesibukannya mencetak generasi yang lebih baik kedepan, salah satunya melaui Olimpiade Sain ini melaui kompetisi yang  berjenjang mulai dari OSk ditingkat kota, OSP di tingkat Propinsi, OSN tingkat nasional dan ciense Olympiade di tingkat dunia.
Beberapa faktor penentu keberhasilan sekolah yang melahirkan siswa/i berprestasi, selain faktor guru pembimbing adalah faktor sistem pembinaan, materi pembinaan serta input siswa itu sendiri, sehingga kita masyaraat pendidikan berupaya keras mengurangim kesenjangan antar sekolah guna melahirkan kompetisi yang lebih sehat/ sportif.
Untuk mensuksesi siswa/i berprestasi inilah pada persekolah yang biasa bekompetisi telah dilakukan peningkatan-peningkatan layanan bagi calon-calon siswa berprestasi ini, baik dari aspek materi, guru, system serta strategi perekrutan siswa/i prestasi dari sekolah pada strata dibawahnya (misalnya perkrutan sispres dari SMP untuk SMA/.
Mendapatkan perhatian yang spesial dari pemerintah melalui Permendiknas No. 78 Tahun 2010 tentang SBI, bukan RSBI, maka sekolah-sekolah SBI, maupun RSBI yang sudah melewati rentang waktu injury time (3 tahun) selain pada aspek dana pengadaan fasilitas dari anggaran belanja negara, dapat  melakukan penarikan DSP yang bisa melebihi sekolah sederajat lainnya, juga mendapatkan perekrutan siswa lebih dahulu dari sekolah regular.
Pada 3 (tiga) tahun berjalan ini, bermodalkan Permendiknas No. 78 Tahun 2010 tentang SBI, bukan RSBI, beberapa sekolah RSBI bersikukuh untuk melakukan pendaftaran terlebih dahulu.  Peroalan inilah yang kemudian begitu dirasakan sebagi suatu ketidak-adilan bagi sebagian praktisi-praktisi pendidikan sekolah-sekolah reguler yang dianggap pesaing RSBI. Sekolah-sekolah regular yang dianggap pesaing tersebut tentunya adalah sekolah-sekolah yang memiliki akar sejarah yang panjang tentang prestasi siswa, maupun alumninya.
Bagi beberapa praktisi pendidikan yang terjun membidangi sisiwa/i prestasi di sekolah reguler, maupun bagi siswa/i-nya perhelatan OSN merupakan momen yang ditunggu-tunggu sebagai suatu momen yang telah hadir jauh sebelum adanya Program RSBI. Melalui OSN beberapa sejarah yang mengagetkan masyarakat pendidikan tertoreh, karena beberapa siswa/i dari kalangan masyarakat yang selama ini termarjinalkan muncul menjadi siswa/i yang membanggakan gru pembimbing, sekolah, orang tua, bahkan kota tempat tinggalnya.
Keterkaitan antara RSBI dan OSN adalah, jika para pendulang emas di strata sekolah-sekolah dibawahnya, misal SMP untuk sekolah SMA hanya terhimpun di satu sekolah yang notabene RSBI, maka hal ini akan memangkas kompetisi sehat dan greget antar sekolah sederajat. Sekolah-sekolah yang dimaksud tentunya adalah sekolah-sekolah yang tidak pernah kekurangan siswa pada PPDB-nya, sehingga sekolah-sekolah itu menjadi competitor dalam perekrutan siswa/i prestasi.
Persaingan yang sehat,  tentu saja adalah persaingan yang logis dan rasional, baik dalam hal waktu, maupun kesempatan yang sama pada setiap sekolah-sekolah competitor tersebut. Persiangan yang sehat tentu saj tidak harus menimbulkan kesan mencuri start, karena takut kurang mendapatkan perhatian yang signifikan dengan gelontoran dana dan keistimewaan-keistimewaan lainnya yang didapatkan dari statusnya sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional.
Masalah krrusial yang muncul pada fakta diatas, dikhawatirkan akan memangkas dan memadamkan persaingan sehat pada helatan OSK di tahun-tahun mendatang. Alangkah tidak bijaksananya, apabila kepentingan pemenuhan criteria SBI dagi segelintir sekolah memadamkan semangat berkompetisi pada helatan OSK, OSP, dan OSN yang secata tak-terbantahkan telah mampu memberikan jawaban yang manis pada stagnasi prestasi pendidikan dasar dan menengah di Indonesia saat inim dan beberapa tahun berselang.   
Beberapa fakta yang harus dipertimbangkan adalah kasus-kasus persaingan dibeberapa daerah missal  Kota x di Jawa Barat. Sekolah negeri regulernya pada tahun kemarin hanya berselisih 1 emas saja di helatan OSK (3 untuknya dan RSBI 1), bahkan melalui kreatifitas guru sejarahnya yang melahirkan Olimpiade Sejarah tk. Kota sekolah itu menjadi sama jumlah emasnya di akademik. Untuk helatan O2SN, malah sekolah regular itu mampu mengalahkan sekolah RSBI yang notabene mendapatkan siswa/i berprestasi lebih luas dengan pencitraan dan status sekolahnya. Belum lagi kompetisi yang sehat dan menarik diantara SMA RSBI dan Reguler ini pada tahun lalu melahirkan duta-duta sispres dari kedua sekolah tersebut, pada bidang Webs Design dari RSBI dan dari SMA Reguler bidang Ekskur Robotic (mengalahkan SMAN 1 Depok- RSBI binaan UI) dan Bloger Creative.
Ternyata suasana kompetsi ini menguntungkan nama baik bagi Kota X tersebut, artinya kompetisi yang sehat dan greget itu adalah sebuah keniscayaan dalam dunia pendidikan.
Suasana kompetisi persekolahan adalah suatu suasana yang harus dijaga sebagai upaya menghidupkan  pembelajaran yang berdaskan pada filosofis  “reward and punishment” yang dianut didunia pendidikan hingga saat ini.
Pertanyaan mendasar yang muncul kemudian, apakah melalui perekrutan lebih dahulu itu akan kemudian menjadi signifikan menempatkan sekolah RSBI menyapu semua bidang OSK tahun depan.
Fakta yang akan datang, apabila benar, maka sebaiknya untuk tahun selanjutnya helatan OSK tingkat kota menjadi sesuatu yang mubazir dilaksanakan, artinya untuk ketingkat propinsi, daripada membuang waktu, tenaga dan pendanaan, Olimpiade Tingkat Propinsi (OSP) seharusnya diikuti wakil-wakil kota/ kabupaten dari siswa/i RSBI tanpa dilaksanakan Kompetisi tingkat Kota.
Hal essensial dari tulisan ini adalah keberadaan sekolah RSBI menjadi sangat bermasalah, apabila menyentuh kepentingan non-material (kebanggaan komunitas sekolah) yang memang sudah lahir dan sengaja dilahirkan sebagai upaya mengdongkrak prestasi. Mengapa begitu penting, karena para praktisi bertanggung-jawab terhadap kepuasan user dan stake holder.
Pelaksanaan strategi PPDB yang didasari ketakutan-ketakutan dan rasa tidak percaya diri dalam berkompetisi akan semakin menterpurukan citra RSBI yang selama ini belum memperlihatkan image yang signifikan dari para user pendidikan pada umumnya.
“Apakah sekolah-sekolah RSBI berani berkompetisi di OSK tanpa harus mencuri start di PPDB ?”
Wallaahu ‘Alam. Wassalaam.
Artikel releven :
edukasi.kompas.com/read/2012/06/20/12220099/Diskriminasi.di.RSBI.Terjadi.Sejak.Proses.Pendaftaran