Blog of Geography Study in SMA Negeri 1 Kota Sukabumi, Indonesia

GEOGRAPHY of SMA NEGERI 1 SUKABUMI

GEOGRAPHY of SMA NEGERI 1 SUKABUMI

Search This Blog

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label Guru. Show all posts
Showing posts with label Guru. Show all posts

October 05, 2024

Sebuah Diskursi tentang Pencapaian Pendidikan Indonesia pada Hari Guru Sedunia 2024

Hari Guru Sedunia, yang jatuh pada tanggal 5 Oktober , merayakan peran pendidik dalam membentuk masa depan dan menyoroti perlunya dukungan mereka. Tema tahun ini, 'Menghargai suara guru,' menekankan masukan penting guru dalam kebijakan pendidikan untuk menciptakan sistem pendidikan yang tangguh dan adil.

Ini bahan diskusi yg bagus dan relevannya : 
Tentang ungkapan Pak Mendik.
https://nasional.tempo.co/amp/1923685/nadiem-makarim-indonesia-telah-lakukan-transformasi-besar-dalam-sistem-pendidikan
Sementara itu Pak JK berpendapat bahwa https://monitorindonesia.com/pendidikan/read/2024/09/595158/jk-sebut-nadiem-makarim-gak-ngerti-pendidikan-minta-presiden-selanjutnya-tak-salah-lagi-pilih-menteri

Kurikulum Merdeka itu Das sollennya Bagus.. Berbasis layanan yang berdiferensiasi.
Model nya Finlandia..
Das sein-nya : 
Jumlah MP yg terlalu banyak  Fase E  : 16 MP. dan Fase F 13 MP.
Rasio guru siswa per kelompok belajar sangat tinggi.
Belum lagi JUMLAH kelas paralelnya yang banyak pula.
Akhirnya tetap akurasinya kurang signifikan.
Diferensiasi pada tahapan proses bisa disiasati berbasis Porto folio, tapi asesment tetap saja 4 interval : istimewa, Memuaskan : Baik dan Cukup.
Akhirnya, sesuai dengan etimologisnya paedagogik adalah mengasuh anak, maka anak sudah hadir di KBM saja sudah dapat nilai 75.. 80..
Sesuai dengan kebanyakan dari mereka yang memilih klasikal bahwa kehadiran mereka di sekolah adalah ibadah menyenangkan orang tuanya...
Tidak ada yang cerdas di semua MP... Apalagi MP nya di kitamah termasuk paling banyak..
Standar minimal nya mereka aman dalam pendampingan guru..
Yang serius mendapatkan ketuntasan maksimal mah, cukup diwakili yang kelompok atas saja (pintar dan istimewa)..
Kadang guru harus memberi kesempatan makan dan tidur sejenak (khalilullah) di kelas dengan kesepakatan bersama.


Video tiktok : 5-8 menit tidur sekejap ..menjelang dhuhur. https://vt.tiktok.com/ZS2WBqJ54/

Untuk mencapai kenyamanan belajar optimal, selain mendekatkan siswa dengan contextual learning, kita harus membawa siswa melaksanakan KBM di luar kelas.
https://vt.tiktok.com/ZS2WBsvCp/

Beberapa suara guru yang sempat terekam diantarnya :

Implementasi Kurikulum Merdeka berbuah banyak keluhan dari para guru. Di antara banyak elemen yang merasakan dampak, guru lan⁶jut usia dan guru di daerah pelosok jadi yang merasakan tantangan berat.

Kurikulum Merdeka banyak berdampak pada sistem kerja guru. Banyak program turunan seperti Guru Penggerak serta diklat dan pelatihan di Platform Merdeka Mengajar yang sejak 2022 jadi beban baru bagi para guru.

Self claim DR. Nadiem bahwa pendidikan meningkat kualitasnya dengan menerapkan berbagai aplikasi... Terlalu gegabah...

DR. Nadiem terlalu naif melihat Indonesia adalah Jakarta... Sehingga dengan segala kecanggihan yg ditetapkan dr tim teknologinya, dianggap membuat pendidikan Indonesia melompat... Nadiem tidak perhatikan, berapa banyak yg tertinggal saat lompatan dilakukan, betapa banyak yg jatuh saat lompatan dipaksakan... Padahal pula pendidikan Indonesia bukan kodok yg suka melompat... 
Ya .. Pasilitas di pelosok, khususnya 3T BELUM MEMADAI..
Sebaiknya Program Guru Penggerak itu difokuskan untuk wilayah 3 T dengan berbagai tambahan anggaran penunjangnya....

Bahkan dalam selorohan--selorohan :
"Banyak lompatannya .. Guru melompat lompat dr  aplikasi yg satu ke aplikasi yg lain, utk tanda tangan aplikasi khusus lagi ,utk membeli meterai aplikasi tertentu beli meterai, kadang tak kaluar, uang sudah dikirim, banyak yang daftar. CPNS dan PPPK. Beli meterai 700 rb, tapi yang keluar cuma satu."  Manipulatornya siapa, Kantor Pos atau pemilik aplikasi?"
"Materai aplikasinya masih banyak bug, sering error... Mungkin sedang menutup neraca keuangan BUMN yg sering merugi," selorohnya.
"Kasihan guru SD yang honornya 250 ribu/bulan harus nombokin dari pengasih orang tua atau padangannya," tambahnya.
Berkenaan dengan pemerataan fasikitas, kenyamanan kegiatan pembelajaran seperti yang di clip dibawah tentu saja belum bisa tercipta di wilayah 3T. Ya. Di pelosok (3T) sepertinya, belum seperti dibawah ini. 
Makanya mereka  memerlukan sekali kompetensi seperti para guru penggerak ..

Bersambung

October 07, 2022

Ketika harus menulis, maka ingat "raraban", sebuah pembekalan dari Guru Semasa SD



Seketika saja, disaat selesai melaksanakan tugas administrasi berupa pelaporan di TRK Jabar, terbetik ingin menulis. Sayangnya didalam pikiran belum tertuang untuk menulis yang merujuk pada sebuah tema sentral, apalgi judul.

Akhirnya, dari pada tidak produktif sama sekali, maka terbimbinglah tangan ini untuk menulis apa adanya. Sepertinya ini sering terjadi, hanya saja beberapa kali terjadi selalu berakhir dengan potongan-potongan tulisan pendek di status social media seperti FB atau teater dengan menggunakan stimulan dari hasil membaca peristiwa yang terjadi saat itu. Hal lain yang biasa dilakukan biasanya membuat konten di intsgram berupa reel video yang merngkum kegiatan yang belum terarsipkan.

Entah sampai kapan penyakit ingin menulis, tapi tak punya sentral ini akan terus mendera diri, Sementara itu hasrat untuk membukukan serpihan-serpihan tulisan pribadi menjadi sebuah obsesi, mengingat kepentingan meninggalkan jejak dalam tulisan sudah semakin mendesak. Bagaimana tidak, ketika dahulu pernah beberapa kali mengirimkan tulisan di surat kabar harian local, nyaris untuk saat ini tidak pernah dilakukan lagi.

Ada gelitik didalam hati tentang tentang pembelajaran di Pokok Bahasan Interaksi Antar Wilayah yang berkenaan dengan metode cepat perhitungan titik Henti. Mengapa harus cepat, tidak lain karena mengandung nilai akar yang harus dihitung tanpa kalkulator. Maka munculah sebuah tulisan yang dititipkan ke Pak H. Dadan Suparda di beritadisdik.com dengan judul :


Silahkan Klik. ↑↑↑↑

atau baca kutipannya di bawah ini :

Mengenang Pembekalan “Raraban” Guru Semasa SD. Mendapatkan Insight Rumus Cepat Menghitung Akar.


Penulis: Ade Fathurahman
5 Okt 2022, dalam 3 hari. Dibaca: 74 kali
(SMAN 1 Kota Sukabumi)

Generasi yang mengalami masa-masa sekolah dasar di Indonesia akhir 70-an sampai dengan awal 80-an adalah generasi yang hadir pada beberapa kali perubahan kurikulum. Generasi yang secara subjektif pribadi saya sebagai genenasi yang paling beruntung.

Bagaimana tidak, generasi saya itulah yang mengalami mandi di sungai hingga mandi di kolam renang hotel seperti yang dirasakan generasi sekarang.



Generasi yang mengalami pembelajaran mengetik masa keemasan mesin tik brother dan yang sezamannya, mengalami mesin tik elektronik merek IBM, mengalami masa-masa mulai dikenal computer “jngkrik” Pentium 186 berbasics DOS dengan aplikasi wordstar, Lotus 123 dan Chi Writer, hingga munculnya Windows 3.11 yang memperkenalkan berbagai aplikasi MS seperti word, exell, power point dll, bahkan sampai pada generasiAndroid sekarang. Generasi yang mengalami perubahan-perubahan aplikasi sosial media dari mulai Yahoo email Group, Friendster, Facebook, Twitter, Path, Slide share, LinkedIn, hingga Youtube dan Instagram, Reel serta Tiktok saat ini.


Sebetulnya, bukan bidang pragmatis yang seperti itu yang akan saya sampaikan di tulisan ini, melainkan berkah mendapatkan pengajaran dari guru-guru SD, SMP dan SMA masa lalu yang memberikan suasana belajar yang memang tepat dilakukan pada masanya. Sebagai contoh kasus adalah pembelajaran SD masa itu yang menekankan pada penguasaan calistung.

Mungkin saja pada waktu itu pembelajaran calistung yang diberikan pada generasi saya belum memberikan insight untuk dimanfaatkan sebagai salah satu yang membekali cara berpikir yang kontekstual. Terbukti juga, gaya hapalan seperti raraban pada masa SD dulu hanya berfungsi sebagai jalan mendapatkan nilai, menghitung uang jajan dan tabungan serta membantu dalam permainan masa kanak-kanak seperti halnya permainan kelereng, monopoli, lempar gambar dan yang sejenis.

Ada beberapa ajaran Beliau-beliau (guru-guru kami) dalam bidang berhitung semacam raraban (perpangkatan), serta penjumlahan, pengurangan, perkalian serta pembagian pecahan yang pada saat menjadi guru sering dijadikan bahan mempercepat dan meyederhanakan pekerjaan siswa dalam mengerjakan soal-soal pada MP Geografi yang saya ampu yang memerlukan penggunaan kompetensi matematika dasar.

Sebagai contoh, selain diperkenalkan perpangkatan yang sampai kelas 6 SD yang mencapai pangkat 25, generasi saya ini, walau di Jurusan Sosial, tapi masih mendapatkan bekal Pembelajaran Bahasa Indonesia yang saya pandang cukup, baik hal mendasar pada Tata Bahasa, maupun pengenalan Kesusastraan Indonesia.

Matematika yang melatih kita berpikir logis serta bahasa yang menuntun kita mengkomunikasikan hasil berpikir logis itulah yang memang ditekankan pada generasi kami saat di SD dahulu yang telah menjadi Insight bagi saya khususnya untuk menstimulan siswa untuk mencintai dan merasa berkebutuhan lebih untuk memahaminya.

Tidak terlalu menyulitkan untuk siswa-siswi dari kelompok kompetensi akademis level menengah seperti saya sekalipun untuk memiliki keingin-tahuan dan kepenasaranan atas permasalahan yang berbau matematis.

Dari pemebelajaran calistung, khususnya perpangkatan itulah saya suak bermain-main dengan siswa pada saat prolog dalam pemebelajaran. Dua hal yang sering saya gunakan diantaranya mengenal akar dari bilangan asli yang bernilai pecahan di bawah 2,5, karena saya waktu SD hanya menghapal sampai 25 kuadrat. Alasan ini dilakukan sebagai stimulan agar mereka yang memiliki kompetensi berpikir logis menularkannya pada yang lain, mengingat banyak siswa Kelas 12 IPS yang terlanjur tak suka dengan Matematika, padahal ada beberapa sub pokok bahasan yang bernuansa matematika dasar. Di Sub-Materi Interaksi desa Kota misalnya digunakan dalam Perhitungan Teori Titik Henti Antar Wilayah.

Sederhananya, ketika saya melatih pencarian cepat akar 2, 3, 5, dan 6, maka saya biasa membuat garis bilangan dari 0 s.d. 6 sebagai pembantu serta secara bersama-sama melakukan raraban dari 11 kuadrat hingga 24 kuadrat. Dan selanjutnya saya akan mebuat sebagian besar dari mereka (kelompok akademis atas dan tengah) mengucapkan “Oh, iya ya.” Tentu saja ini hanya bisa dilakukan tanpa kalkulator dengan angka pembulatan 1 atau 2 desimal, sehingga mendapatkan hasil dari akar tadi secara berurutan ~1,4, ~1,7, ~2,2, ~2,4 atau 2,45

BERSAMBUNG



November 14, 2012

Guru PNS dan Tersertifikasi harus Syukur Ni’mat.

 (Mencermati Polemik antara Saudara Dudung Koswara dan Saudara Ade Munajat berkenaaan Tulisan tentang Guru Sangkuriang)
Dunia pendidikan adalah dunia normatif, dunia penuh dengan nilai, sehingga kesalahan sekecil apapun yang terdapat dalam profesi Guru PNS, akan menjadi sorotan. Pertanyaannya : “adilkah perlakuan tersebut ?.” Jawaban dari pertanyaan itu harus menyamankan perasaan masyarakat yang berstatus sebagai user layanan pendidikan yang kita laksananakan.
Profesi guru itu adalah “mendidik”, diamana pekerjaan ini sangat kental dan bahkan identik dengan da’wah. Kedekatan ini pula mendekatkan peran guru dengan gelar ulul albab, bahkan ‘ulama bagi guru-guru yang menekuni spesifikasi bidang khusus keagamaan dalam Islam. Pada tataran normatif para ulama itu digelari dengan gelar yang sangat tinggi, yakni “wara’satul anbiya”, sehingga secara genetik guru merupakan “keturunan akademik” dari para nabi.
Sudah tidak zamannya lagi Guru PNS yang tersertifikasi menjadi bagian dari warga negara yang berkeluh kesah atas profesinya, karena memang tidak memiliki pilihan lain, selain berusaha melaksanakan tupoksinya secara baik atau mundur tergantikan dengan gelombang generasi yang lebih baik. Sudah tidak zamannya lagi guru kebakaran jenggot, ketika  mendapatkan kritikan perbaikan kinerja dari luar profesi, atau bahkan otokritik dari rekan sejawat seperti yang dilakukan oleh Saudara Dudung Koswara dalam tulisannya di media cetak ini seminggu yang lalu. Ya, memang ada pentamsilan/ penganalogian atau “metapora” (mengambil istilah yang dipakai Saudara Ade Munajat) yang kurang tepat dengan istilah Guru Sangkuriang dan Murid Malinkundang (kurang bil hikmah wal mau’idlatul hasanah),  namun kekurang-tepatan itu tidak lantas kemudian menempatkan posisi Guru PNS menjadi para malaikat yang suci dan bebas kritik atas kinerjanya atau menapikkan adanya pola pendidikan ‘nyaah dulang” yang mengintervensi keputusan-keputusan otoritas persekolahan, bahkan di sekolah-sekolah RSBI sekalipun. Penempatan huruf R dalam singkatan RSBI selama bertahun-tahun (lebih dari 3 tahun) pada beberapa sekolah RSBI pun menunjukkan kelemahan kita yang ternyata tidak bisa memenuhi targetan waktu seperti yang diharapkan, karena berkenaan dengan kesenjangan antara konseptual program dengan kontekstual pendidik dan peserta didik dalam pemenuhan 8 Standar Pengelolaan Pendidikan Nasional  diamanatkan Permendiknas No. 19 Tahun 2007.
 Merebaknya demo yang dilakukan para guru honorer untuk diangkat menjadi PNS serta membludaknya pendaftaran menjadi Guru PNS menempatkan Negara atau Rakyat Indonesia memiliki bergaining position yang kuat dibandingkan pelayan pendidikannya (Guru PNS).
Kita bukan pemberi  tahu, melainkan pengingat.. Begitulah kira-kira kata padanan yang tepat untuk kewajiban da’wah kita sebagai sebaik-baik ummat (khairu ummah) yang memiliki tugas ta’muruuna bil ma’ruf wa tanhauna ‘anil munkar.
Indah, ketika mendengar kedekatan tugas kita sebagai guru dengan para nabi, insan-insan yang senantiasa mendapatkan perhatian ALLAH dalam perjalanan hidupnya. Pada tataran ini, ALLAH sekali lagi menegaskan pada kita bahwa  profesi guru itu profesi yang sangat lekat dengan shirah kenabian, walau secara syar’i kita meyakini bahwa Muhammad SAW merupakan Khatamun nabiyyin.
K.H. Isa Anshary, dalam Bukunya yang melegenda, “Mujahid Da’wah,” menegaskan bahwa pilihan menjadi penda’wah adalah bukan pilihan yang akan menghadapkan kita pada kemegahan dunia secara materil, melainkan sebuah perjalanan panjang berliku yang penuh dengan halangan dan rintangan. Mengambil posisi dijalan da’wah berarti nawwaitu dengan sepenuh hati mewakafkan diri pada shirah yang jauh dari dunia hedonistik dan individualistik.
Pada konteks Periode Da’wah Madaniyah, beberapa shahabat nabi tidak diberangkatkan ke medan pertempuran, karena memiliki  kemampuan menghapal ayat-ayat yang diturunkan kepada Nabi (Al Quran dan Hadits Qudsi) serta tutur kata Nabi (Hadits). Shahabat nabi yang istimewa seperti inilah yang kemudian sehari-harinya disibukkan dengan kegiatan belajar-mengajar Agama islam, belajar kepada nabi dan mengajar kepada para penganut Islam yang datang kemudian. Untuk shahabat-shahabat seperti ini, atas perintah nabi, Baitul Maal yang menampung zakat, infak dan shadaqah Kaum Muslimin, mengalokasikan dananya dengan memasukannya pada “asnab fisabilillaah.”
Pertanyaannya sekarang, Bagaimanakah kedudukan guru PNS, apabila dianalogikan atau ditamsilkan denga Periode Da’wah Madaniyah ?. Jawabanya, guru yang sudah menyandang PNS adalah sekelompok warga negara  yang diistimewakan negara dengan mendapatkan penghidupan dari pajak yang dikumpulkan dari seluruh warga negara. Mengapa semua warga negara ?. Jawabannya, karena semua barang yang dikonsumsi oleh warga negara meiliki konsekuensi pembayaran pajak langsung, terlepas dari besar atau kecilnya. Sebagai contoh : seorang anak tuna wisma yang menkonsumsi susu kaleng, ataupun karena keterpaksaannya harus mengkonsumsi barang sejenis yang lebih murah dari kios kecil disekitar rumahnya akan terkena pajak langsung dari kelebihannya membayar harga yang diatas harga pokok produksi plus rabbat bagi pengusahanya, karena harga kebanyakan barang  yang dikenakan pada konsumen di Indonesia merupakan harga yang sudah menyertakan penambahan nominalnya yang dieruntukan bagi pembayaran  pajak industri. Belum juga, jika bapaknya yang tuna wisma itu, juga merokok, maka dia secara otomatis menjadi pembayar pajak yang “patuh” dengan kontribusi yang cukup besar, bergantung pada tingkat kecanduannya. Merujuk pada keistimewaan yang diberikan negara yang demikian hebat untuk Guru PNS, maka berbondong-bondonglah sebagian masyarakat yang dulunnya meremehkan profesi Guru PNS menjadi tertarik untuk menekuni pofesi ini dengan harapan mendapatkan ‘jaminan masa depan” dari fasilitas yang disediakan negara melalui penggajian dan sertifikasi. Hal ini tidak menjadi masalah, apabila dalam peerjalanannya, seseorang yang memilih profesi Guru PNS bersiap dengan berbagai konsekuensi logisnya.
Berkenaan dengan hal lain yang dianjurkan Saudara Ade Munajat pada PGRI diakhir tulisannya berkenaan dengan Saudara Dudung koswara, maka menurut saya Program PGRI saat ini lebih baik dikonsentrasikan pada pembekalan-pembekalan mental dan spiritualitas Guru agar menjadi insan-insan yang Syukur Ni’mat, ketika mendapatkan kepercayaan masyarakat mendapatkan jaminan penggajian dan sertifikasi dari negara melalui peningkatan kinerja dan otokritik/ muhasabah  untuk mengembalikan guru mengenal kesejatiannya (Tazkiyatun nafs ilaa ma’rifatul insan). Pemberian tegoran, karena kesalahan  teknis, berupa kesalahan penganalogian legenda fiktif kedalam realitas dunia pendidikan tidak lantas menjadi sebuah langkah yang cerdas, karena penggunaan Sangkuriang disana bukan dimaksudkan pada keseluruhan kareakter, melainkan pada penggalan episode Sangkuriang yang kesiangan. Sekali lagi, kesiangan, minus karakter Oedipus complexnya. Adapun kesalahan metapora Malinkundang kepada para siswa bermasalah, memang seharusnya dihindarkan, karena akan memberikan pencitraan yang tidak baik bagi guru, karena pemberian gelar tersebut bisa menjadi do’a dan dapat dikatergorikan sebagai bullying, bila diketahui oleh siswa yang bersangkutan. Justeru, karena produktifnya Saudara Dudung Koswara harus diwadahi di PGRI yang sekaligus dibekali dengan skill-skill yang menunjang kearah yang lebih shaleh dalam penyampaian asumsi-asumsi atas dasar observasi yang akurat di masa mendatang.     
Akhirnya, salam hangat untuk semua Guru, Semoga Allah anugerahkan kita rezeki keistiqomahan dalam syukur ni’mat. Tetap semangat melayani dan menjadikan hambatan, kkritik, celaan, hinaan sebagai media muhasabah kita dan menjadikannya sebagai bagian dari kifarat atas kesalahan-kesalahan  dan dosa kita dalam melayani masyarakat pendidikan yang diembankan Allah melalui negara dan masyarakat kepada kita.
Diberkatilah Guru Indonesia, Berwibalah Pendidikan Indonesia !