Blog of Geography Study in SMA Negeri 1 Kota Sukabumi, Indonesia

GEOGRAPHY of SMA NEGERI 1 SUKABUMI

GEOGRAPHY of SMA NEGERI 1 SUKABUMI

Search This Blog

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Showing posts with label menulis. Show all posts
Showing posts with label menulis. Show all posts

June 08, 2023

Media Untuk Penguatan Literasi Menulis


Ini pertama kali saya mencoba mengirimkan tulisan ke geotimes.id dalam rangka mensosialisasikan konten terakhir di Blog yang disertai beberapa tautan link literasi menulis guru dan siswa mulai dari Awal Oktober hingga Akhir Nopember di beritadisdik.com.

Menjadi sebuah rahasia umum, jika sesuatu yang merupakan tahapan permulaan memiliki daya rangsang cukup tinggi. Permulaan bisa diartikan sebagai tahapan keadaan yang benar-benar baru atau juga merupakan tahapan yang merupakan keberlanjutan dari tahapan sebelumnya yang sebetulnya masih sejenis.

Berbekal sedikit pengalaman pernah menjadi kontributor di website milik sekolah saat menjadi Wakasek Bidang Humas. kemudian Media Lokal Radar Sukabumi beserta hobi merekonstruksi blog, baik konten, maupun template-nya telah menjadikan saya tersesat dibelantara media online.

Bekal lain adalah sedikit pengalaman menjadi bagian dari kelompok yang sering menyisakan rekam jejak digital, mulai era e-mail group-nya Yahoo, Friendster dan Google+ disertai Path yang sudah berakhir dan Panoramio (aplikasi untuk placemark di Google Earth yang telah berhenti melayani). Pengalaman lainnya bersamaan dengan menyeruaknya aplikasi slide share satu grup dengan Linked-in sebagai bagian dari aplikasi khusus berbasis presentasi hingga sedikit pengalaman di wordpresskompasiana serta gurusiana.id.

Sejalan dengan dinamika Pendidikan Indonesia saat ini, walaupun Facebook dan Twitter lahir di era yang lebih jadul, tapi sebagai media ekspresi antar para guru dan sebagian kecil peserta didik, keberadaan keduanya melengkapi Youtube dan Instagram yang mulai digunakan secara familiar belakangan ini.

Fungsi media ekspresi ini menjadi prenting bagi kami, para pendidik yang menjadikannya, selain menjadi sebatas ekspresi diri juga menjadi bagian kontrol kami terhadap asuhan kami para peserta didik, baik terhadap konten positif sebagai porto folio yang harus diberi reward, maupun konten negatif yang para peserta didik yang diintrusi oleh habit dewasa yang harus kami persiapkan antisipasinya sedini mungkin.

Akhirnya, sampai juga pada tujuan kami menulis reportase ini di Media Tingkat Nasional semacam geotimes.id ini agar mendapatkan kesempatan berkontribusi, walau produk reportase ini tak begitu banyak memberikan manfaat seperti produk-produk tulisan khas geotimes.id yang begitu seksi untuk dibaca dan diteladani oleh kami para guru di ekolah Menengah. Tercatat, di SMA Negeri 1 Kota Sukabumi saat ini pun, baru Rekan Tantan Hadian, M.Pkim. yang sedang menmpuh pendidikannya di Program Doktoral UNINUS Bandung.

Selanjutnya, dibawah ini saya lampirkan sebuah paparan tentang budaya porto folio itu dalam bentuk reportase atas kerja saya bersama teman-teman muda yang telah menjadi rekan sejawat di SMA Negeri 1 Kota Sukabumi selama 5 Minggu berselang yang saya unggah di blogspot saya “Stimulan Viralisasi”, Sebuah Upaya Mendampingi Siswa Mengembangkan Kemampuan Literasinya (Bagian 1) ~ GEOGRAPHY of SMA Negeri 1 KOTA SUKABUMI (adefathurahman.blogspot.com)

 

Sebagai bagian dari tugas ASN Pemprov. Jawa Barat, maka saya dan beberapa rekan guru memiliki kewajiban untuk melakukan reportase atas kinerja harian yang telah dilakukan. Tentu saja untuk tugas utama berupa KBM, mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga penilaian serta remedial dan tindak-lanjutnya menjadi lahan point bagi kami.

Pada tahapan pelaksanaan KBM sebagaimana layaknya guru-guru yang lain, saya nemberikan keleluasaan pilihan untuk tambahan nilai dalam bentuk porto-folio penugasan tak terstruktur. Beberapa alternatif bisa dilakukan siswa untuk memenuhi capaian pembelajaran, diantaranya melalui produk tulisan siswa.

Produk tulisan siswa pun dikategorisasikan dalam 2 macam. Essay berupa narasi yang berisi refleksi atas sub materi yang diajarkan atau artikel mengenai tema yang lebih bebas.

Nah, untuk produk artikel ini siswa diberi stimulan berupa peluang untuk eksis di media online. Saya mentriger mereka dengan motto : “Penuhi Rekam Jejak Digital dengan Karya-Karya  Positif sebagai Bahan Kenangan Manis di Masa Datang.”

Ternyata, tak diduga dalam dua bulan ini, walau jumlahnya tak banyak, tapi cukup membuat saya tetap bersemangat untuk terus melanjutkan kegiatan ini.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, maka saya terbantu dengan keberadaan sebuah Media Pendidikan online berita.disdik.com yang dimediasi melalui komunikasi yang simpel melalui Whatsapps. Saya mendapatkan rekan kerja eksternal baru dari komunikasi ini, yakni H. Dadan Supardan yang senantiasa mengapresiasi produk peserta didik saya di medianya.

Walau beberapa kali saya menyempatkan juga berkonstribusi di Harian Umum Radar Sukabumi untuk tulisan pribadi saya, tapi karena rekan-rekan guru yang lain, dari berbagai kota hadir di media online khas pendidikan ini, maka saya pun memilih beritadisdik.com sebagai prioritas utama yang dijadikan sebagai ruang ekspresi saya bersama peserta didik yang saya asuh.

Sebagai kerja tambahannya saya pun mengajak rekan-rekan guru muda di sekolah untuk meramaikan media online dengan tulisan-tulisan mereka disana. Walau hanya baru sekali dua kali, tetapi sebagai awalan yang saya jadikan stimulan kepada para peserta didik untuk terus bersemangat menulis.

Media online khas pendidikan atau kolom pendidikan dibeberapa media harian umum tersedia, tetapi sepertinya media online beritadisdik.com lebih familiar saat ini sebagai ruang ekspresi para tenaga pendidikan atau peserta didik, khususnya Jawa Barat.

Sukabumi, Awal Desember 2022

December 14, 2022

Ulas-Mengulas, Ulasan atas Sebuah Ulasan, Satu Tema Dua Ulasan. Sebuah Upaya Pemenuhan Kebutuhan akan Konten Blog.




Ini hanya sebuah ulasan atas ulasan saya sendiri. Sauatu kegiatan yang dimulai dengan memunculkan tulisan jenis reportase di blog ini tentang manajemen kegiatan pembelajaran sektor penguatan literasi menulis peserta didik di media online. 

Uoaya Penguatan yang distimulan dengan reward berupa nilai porto folio penugasan tak terstruktur sebagai nilai tambah pada penugasan harian. Setting goal-nya tentu saja bakc up data asesment yang bisa dipertanggung -jawabkan yang mempertanyakan risalah lahirnya nilai-nilai Geografi yang saya keluarkan.   

Mengapa perlu membuat loncatan seperti itu, karena bagaimanapun saya termasuk guru yang seng memberikan nilai tinggi atas dasar penambahan tugas dan perma'luman atas kesibukan peserta didik beradaptasi dengan sedikitnya 13 sampai dengan 16 Mata Pelajaran Persemester,

Semenjak saya melahirka blog ini di 2008 yang di revitalisasi di 2009, saya sudah melakukan hal sejenis seperti yang saya lakukan diatsa melalui penugasan pembuatan blog pada siswa-siwi didik saya atau berkomentar pada blog saya ini untuk mendapatkan nilai Tambhan.

Berikut adalah link" ulasan" yang saya ulas adalah sebuah tulisan ulasan saya di media online (https://kumparan.com/ade-fathurahman/bersinergi-dengan-kumparan-com-untuk-sebuah-reportase-kinerja-penguatan-literasi-1zNAAeWpyQ6), dimana ulasan ini mengulas tulisan saya di blog ini ("Stimulan Viralisasi", Sebuah Upaya Mendampingi Siswa Mengembangkan Kemampuan Literasinya (Bagian 1) ~ GEOGRAPHY of SMA Negeri 1 KOTA SUKABUMI (adefathurahman.blogspot.com))

Sebuah ulasan yang substansialnya sama, menguatkan rasionalitas sebuah kinerja ASn Guru yang bersinergi dengan jargon terbaru dalam dunia pendidikan kita, yakni litersi. Sebelumnya saya berjalan mengalir saja, tapi dari mengalir itulah saya mendapatkan kemudahan dalam mememnuhi tuntutan pemenuhan syarat minimal kinerja saya yang tidak hanya cukup mellaui KBM didalam kelas, walau sudah memenuhi standar 24 jam per minggu.

 

October 07, 2022

Ketika harus menulis, maka ingat "raraban", sebuah pembekalan dari Guru Semasa SD



Seketika saja, disaat selesai melaksanakan tugas administrasi berupa pelaporan di TRK Jabar, terbetik ingin menulis. Sayangnya didalam pikiran belum tertuang untuk menulis yang merujuk pada sebuah tema sentral, apalgi judul.

Akhirnya, dari pada tidak produktif sama sekali, maka terbimbinglah tangan ini untuk menulis apa adanya. Sepertinya ini sering terjadi, hanya saja beberapa kali terjadi selalu berakhir dengan potongan-potongan tulisan pendek di status social media seperti FB atau teater dengan menggunakan stimulan dari hasil membaca peristiwa yang terjadi saat itu. Hal lain yang biasa dilakukan biasanya membuat konten di intsgram berupa reel video yang merngkum kegiatan yang belum terarsipkan.

Entah sampai kapan penyakit ingin menulis, tapi tak punya sentral ini akan terus mendera diri, Sementara itu hasrat untuk membukukan serpihan-serpihan tulisan pribadi menjadi sebuah obsesi, mengingat kepentingan meninggalkan jejak dalam tulisan sudah semakin mendesak. Bagaimana tidak, ketika dahulu pernah beberapa kali mengirimkan tulisan di surat kabar harian local, nyaris untuk saat ini tidak pernah dilakukan lagi.

Ada gelitik didalam hati tentang tentang pembelajaran di Pokok Bahasan Interaksi Antar Wilayah yang berkenaan dengan metode cepat perhitungan titik Henti. Mengapa harus cepat, tidak lain karena mengandung nilai akar yang harus dihitung tanpa kalkulator. Maka munculah sebuah tulisan yang dititipkan ke Pak H. Dadan Suparda di beritadisdik.com dengan judul :


Silahkan Klik. ↑↑↑↑

atau baca kutipannya di bawah ini :

Mengenang Pembekalan “Raraban” Guru Semasa SD. Mendapatkan Insight Rumus Cepat Menghitung Akar.


Penulis: Ade Fathurahman
5 Okt 2022, dalam 3 hari. Dibaca: 74 kali
(SMAN 1 Kota Sukabumi)

Generasi yang mengalami masa-masa sekolah dasar di Indonesia akhir 70-an sampai dengan awal 80-an adalah generasi yang hadir pada beberapa kali perubahan kurikulum. Generasi yang secara subjektif pribadi saya sebagai genenasi yang paling beruntung.

Bagaimana tidak, generasi saya itulah yang mengalami mandi di sungai hingga mandi di kolam renang hotel seperti yang dirasakan generasi sekarang.



Generasi yang mengalami pembelajaran mengetik masa keemasan mesin tik brother dan yang sezamannya, mengalami mesin tik elektronik merek IBM, mengalami masa-masa mulai dikenal computer “jngkrik” Pentium 186 berbasics DOS dengan aplikasi wordstar, Lotus 123 dan Chi Writer, hingga munculnya Windows 3.11 yang memperkenalkan berbagai aplikasi MS seperti word, exell, power point dll, bahkan sampai pada generasiAndroid sekarang. Generasi yang mengalami perubahan-perubahan aplikasi sosial media dari mulai Yahoo email Group, Friendster, Facebook, Twitter, Path, Slide share, LinkedIn, hingga Youtube dan Instagram, Reel serta Tiktok saat ini.


Sebetulnya, bukan bidang pragmatis yang seperti itu yang akan saya sampaikan di tulisan ini, melainkan berkah mendapatkan pengajaran dari guru-guru SD, SMP dan SMA masa lalu yang memberikan suasana belajar yang memang tepat dilakukan pada masanya. Sebagai contoh kasus adalah pembelajaran SD masa itu yang menekankan pada penguasaan calistung.

Mungkin saja pada waktu itu pembelajaran calistung yang diberikan pada generasi saya belum memberikan insight untuk dimanfaatkan sebagai salah satu yang membekali cara berpikir yang kontekstual. Terbukti juga, gaya hapalan seperti raraban pada masa SD dulu hanya berfungsi sebagai jalan mendapatkan nilai, menghitung uang jajan dan tabungan serta membantu dalam permainan masa kanak-kanak seperti halnya permainan kelereng, monopoli, lempar gambar dan yang sejenis.

Ada beberapa ajaran Beliau-beliau (guru-guru kami) dalam bidang berhitung semacam raraban (perpangkatan), serta penjumlahan, pengurangan, perkalian serta pembagian pecahan yang pada saat menjadi guru sering dijadikan bahan mempercepat dan meyederhanakan pekerjaan siswa dalam mengerjakan soal-soal pada MP Geografi yang saya ampu yang memerlukan penggunaan kompetensi matematika dasar.

Sebagai contoh, selain diperkenalkan perpangkatan yang sampai kelas 6 SD yang mencapai pangkat 25, generasi saya ini, walau di Jurusan Sosial, tapi masih mendapatkan bekal Pembelajaran Bahasa Indonesia yang saya pandang cukup, baik hal mendasar pada Tata Bahasa, maupun pengenalan Kesusastraan Indonesia.

Matematika yang melatih kita berpikir logis serta bahasa yang menuntun kita mengkomunikasikan hasil berpikir logis itulah yang memang ditekankan pada generasi kami saat di SD dahulu yang telah menjadi Insight bagi saya khususnya untuk menstimulan siswa untuk mencintai dan merasa berkebutuhan lebih untuk memahaminya.

Tidak terlalu menyulitkan untuk siswa-siswi dari kelompok kompetensi akademis level menengah seperti saya sekalipun untuk memiliki keingin-tahuan dan kepenasaranan atas permasalahan yang berbau matematis.

Dari pemebelajaran calistung, khususnya perpangkatan itulah saya suak bermain-main dengan siswa pada saat prolog dalam pemebelajaran. Dua hal yang sering saya gunakan diantaranya mengenal akar dari bilangan asli yang bernilai pecahan di bawah 2,5, karena saya waktu SD hanya menghapal sampai 25 kuadrat. Alasan ini dilakukan sebagai stimulan agar mereka yang memiliki kompetensi berpikir logis menularkannya pada yang lain, mengingat banyak siswa Kelas 12 IPS yang terlanjur tak suka dengan Matematika, padahal ada beberapa sub pokok bahasan yang bernuansa matematika dasar. Di Sub-Materi Interaksi desa Kota misalnya digunakan dalam Perhitungan Teori Titik Henti Antar Wilayah.

Sederhananya, ketika saya melatih pencarian cepat akar 2, 3, 5, dan 6, maka saya biasa membuat garis bilangan dari 0 s.d. 6 sebagai pembantu serta secara bersama-sama melakukan raraban dari 11 kuadrat hingga 24 kuadrat. Dan selanjutnya saya akan mebuat sebagian besar dari mereka (kelompok akademis atas dan tengah) mengucapkan “Oh, iya ya.” Tentu saja ini hanya bisa dilakukan tanpa kalkulator dengan angka pembulatan 1 atau 2 desimal, sehingga mendapatkan hasil dari akar tadi secara berurutan ~1,4, ~1,7, ~2,2, ~2,4 atau 2,45

BERSAMBUNG